Pasangan Bukan Untuk Kesepian
Sering seseorang itu merasa sepi ketika sendiri. Dalam artian, menjalani hidup tanpa kekasih. Terutama di setiap waktu malam dan ingin tidur. Namun, hal itu bukan suatu alasan yang tepat untuk mencari calon pasangan sebagai pelengkap diri. Yah, hal tersebut bisa menjadi pelampiasan untuk mengisi kesepian saja. Bukan kah itu kejam? Setidaknya hanya bahagia semu yang dirasakan. Baik itu bagi pencari pelengkap kesepian, atau seseorang yang dijadikan pasangan.
Hal yang demikian itu, cenderung memaksakan menjalani rutinitas agar tidak sendirian saja. Memang benar, kemana-mana menjadi tidak sepi dan selalu ada teman. Tapi bukankah terasa hambar. Kurang berasa sensasinya.
Sensasi apa?
Sensasi orang jatuh cinta! Bisa saja sensasi setiap orang berbeda. Mungkin yang sedikit sama ialah sensasi rasa berdebar seperti saat pertama jumpa. Sensasi berdebar seperti saat pertama kali bicara. Sensasi berdebar setiap kali menjalani perjumpaan selanjutnya. Sensasi berdebar sampai mati kutu ketika mengungkapkan rasa. Bukankah hubungan yang dijalani dengan landasan demikian lebih menyenangkan dalam setiap saatnya?
Jadi, jika masih sendiri dan memang tidak enak sendiri. Rasa sepi cenderung erat menghantui. Memang gampang pula berkata 'yang sabar - jodoh tak kan lari kemana - tulang rusuk tak akan pernah tertukar - jika sudah waktunya pasti bertemu' Dan pasti itu terkadang dianggap penghibur diri. Meski sebenarnya mulai ragu dengan kata-kata pamungkas itu. Bahkan mulai mempertanyakan kapan datangnya? kapan ketemunya? kapan jumpanya?
Setidaknya cobalah percaya, suatu hubungan yang dilandaskan mengisi rasa kesepian saja akan ada sesi membosankannya. Syukur-syukur bisa memupuk rasa sayang, kalau tidak bisa menjauh, pisah dan mencari lagi. Bukan kah yang seperti itu akan melahirkan orang-orang yang tersakiti?

Tidak ada komentar: