Header Ads

Tak semua lelaki jika ada yang baru harus dikejar, bukan?

Dua puluh empat tahun kudiami masih beberapa teringat, setahun setengah kutinggal beberapa membuatku menggeleng, ada yang kagum ada yang kecewa. Ada yang semakin berwarna, bersih, asri. Kapan-kapan pasti bersantai di taman ini. Ada juga yang bukan lagi sawah, sudah bangunan tinggi, ada pula hamparan komplek perumahan. Sepertinya, tak bisa lagi dibuat main layang-layang nanti sore. Kota Malang yang baru.
Satu di antara yang teringat, Angkot (Angkutan Kota). Dominan warna biru. Banyak macam, beda corak beda tujuan. Yang kunaiki, tujuan Arjosari-Dinoyo-Landungsari. Beberapa tempat penting dilewati, seperti Masjid Sabilillah, Lapangan Rampal, Stasiun Kota Baru, Balai Kota, Perpustakaan Kota, dan beberapa kampus. Tujuanku ke Perpustakaan Kota. Ada janji dengan Mbak Paris, siapa dia? Nanti kuceritakan.
Jam satu kurang beberapa menit. Sudah dua puluh menit lebih angkot nge-time (Istilah yang digunakan sopir angkot untuk memarkir angkotnya dengan tujuan menunggu penumpang dalam jangka waktu yang tidak ditentukan). Sekitar dua puluh meter setelah halte. Seberang jalan dari pintu masuk Stasiun Kota Baru. Memang ada tiga penumpang yang turun, tapi toh masih ada tujuh penumpang lainnya. Beberapa menganggap sopir sedang serakah, seperti gadis berkerudung merah muda yang semakin gelisah, beberapa kali terus melihat jam tangan. Buku sosiologi pedesaan ada di pangkuan. Asumsiku, mahasiswi pertanian itu pasti dikejar jam kuliah.
Kalau untukku? Beruntung aku tak sedang diburu waktu. Kunikmati saja duduk di bangku pojok belakang sambil menikmati pemandangan dari kaca belakang angkot. Dari sudut itu, bisa kulihat jelas patung buto ijo yang tengah tumbang warna kemerahan, beberapa patung manusia berdiri gagah di atasnya, lalu lalang depan stasiun yang terus sibuk, becak, motor, mobil, taksi, dan angkot lainnya yang parkir. Pintu masuk sedikit lenggang, mungkin karena masih pagi. Dari jauh, dua loket sedikit nampak. Satu loket saja yang terisi, dua orang sedang mengantri. Aku terlalu detail nampaknya.
Dari arah pintu keluar, puluhan manusia berduyun-duyun berhamburan, mencari jalan masing-masing. Satu perempuan muda menyeberang, melangkah cekatan mendekati angkot yang ada diriku di dalamnya. Rambut terurai, bergelombang. Sebaian rambut menutup telinga kiri, sebagian di bagian kanan ditata pada sela-sela telinga. Memberikan ruang untuk earphone putih. Kaos lengan panjang putih. Celana jeans biru dongker. Sepatu ket putih motif biru muda, biru langit. Di punggung menggantung ransel yang penuh isinya. Nampak padat menyembul. Lalu lehernya tertutup scarf biru muda bermotif kupu-kupu. Nona manis yang menarik.
Mataku tak berani mengikuti lagi, seperti saat sudah melewati kaca belakang angkot, sampai saat kusadar dia juga naik angkot pun, masih tak kulirik. Bahkan sampai nona itu duduk di bagian belakang seberangku, tepat depanku. Pura-pura saja tak tertarik. Toh, ini pertemuan yang bukan diatur. Ini perjumpaan tak sengaja, tak ada pertanda apa-apa. Itu pun tak bisa dibilang benar-benar berjumpa. Meski tak dipungkiri, aku tergoda warna biru, aku penyuka warna biru. Scarf kupu-kupunya juga menggoda. Beberapa kali kulirik, pura-pura melihat jalan dan penumpang lain saat angkot mulai berjalan.  
Sebatas itu saja. Sekitar dua puluh menit lagi sampai tiba di tujuanku, akan tetap seperti itu. Diam, dan tak ada percakapan. Rasaku seharusnya begitu. Tak semua lelaki jika ada yang baru harus dikejar, bukan? Tak haruslah mengajak berkenalan.
Sampai dengan aku turun lebih dulu. Dan ketika angkot mulai bergerak, melewatiku yang menepi di trotoar, entah alasan apa, mataku berani memandang nona ber-scarf kupu-kupu warna biru. Mataku mengikuti lebih lama. Batinku jadi bertanya, scarf kupu-kupu warna biru yang membuatnya manis, atau nona itu yang membuat scarf kupu-kupu birunya yang jadi manis?
Dan sepertinya, nona itu manatapku balik, sedikit senyum tersungging. Sepertinya! Apa hanya perasaanku?

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.